Lampu gantung bergoyang perlahan karena hembusan AC yang dingin menusuk. Di meja besar dari kayu jati, berkas-berkas tersebar, beberapa layar laptop menampilkan data dan potongan foto. Ivan berdiri dengan tangan gemetar, luka di pelipisnya masih tampak segar. Tapi sorot matanya tak tergoyahkan—seperti seseorang yang baru saja lolos dari maut tapi masih menyimpan amarah dan tekad membara. Jiva duduk bersandar di kursi, tangan bertaut di depan mulut, rahangnya mengeras. Ia sudah terlalu lelah, tapi juga terlalu terpancing untuk mundur. Teror pada Salwa, kehadiran Rania, wanita misterius yang bersekongkol dengan Mita—semuanya mulai membentuk pola. Namun satu nama belum terungkap. Dan malam ini, Ivan datang membawa jawabannya. “Dia bukan cuma wanita misterius, Mas,” kata Ivan pelan. “Dia pu

