Tawaran yang Tak Selesai Ditepis

1113 Words

Rania duduk di dalam kafe kecil di sudut kota, tak jauh dari pusat Jogja. Tangannya meremas cangkir cappuccino yang sudah dingin sejak dua puluh menit lalu. Di depannya, wanita itu—berbaju hitam elegan, beraroma parfum mahal, dengan senyum licik yang tak pernah lepas dari wajahnya. Wanita misterius itu menyilangkan kakinya, lalu melipat tangannya di atas meja, menatap Rania dengan tatapan yang penuh teka-teki. “Jadi,” ucapnya pelan, “kamu sudah pikirkan tawaranku?” Rania menelan ludahnya. “Aku tidak tahu. Ini terlalu jauh.” “Jauh?” Wanita itu terkekeh kecil. “Sayang sekali. Aku pikir kamu cukup cerdas untuk tahu mana peluang dan mana kebodohan.” Rania mengalihkan pandangan ke luar jendela. “Aku mendekati Salwa bukan untuk menyakitinya. Aku ingin bantu dia. Aku ingin menebus semua kesa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD