Takdir yang Menunggu Waktu

1152 Words

Sudah hampir tiga tahun Jiva dan Salwa menikah. Rumah di Jogja itu semakin nyaman. Salwa masih aktif kuliah, si kembar sudah pintar berlari ke sana ke mari, dan Jiva—Jiva mulai lebih banyak diam ketika topik soal anak ketiga dibicarakan. “A’, kenapa sih akhir-akhir ini murung?” tanya Salwa, saat ini mereka berdua duduk di teras belakang, mengawasi si kembar yang asyik main gelembung sabun bersama Mbak Yanti. Jiva mengusap wajahnya, lalu menatap langit yang mulai gelap. “Aku cuma mikir—kita sudah hampir tiga tahun nikah. Tapi belum ada tanda-tanda kamu hamil lagi.” Salwa mengangguk pelan. Dia tahu topik ini akan muncul cepat atau lambat. Apalagi belakangan keluarga mulai sering bertanya, bahkan dengan nada bercanda yang sesekali terasa menekan. “Aa’ khawatir?” Jiva menarik napas. “Buk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD