Sinar matahari pagi menyusup dari celah-celah jendela ruang makan yang terbuka lebar. Aroma roti panggang dan telur dadar buatan Salwa memenuhi udara, tapi bukan itu yang menghangatkan suasana pagi ini. Suara rengekan dua bocah kembar dan rayuan maut seorang pria dewasa bernama Jiva adalah penyebab utamanya. "Sayang—kalau kamu ke panti rehab hari ini, aku ikut, ya?" Jiva, memakai kaos putih dan celana santai, duduk di kursi makan sambil menyuapi Rasyid yang sibuk main sendok. Salwa memutar tubuh dengan alis terangkat. "Ikut? Ini kegiatan kampus, A’. Nggak bisa asal bawa pengiring rombongan." "Kenapa nggak bisa?" Jiva bersandar, memasang wajah memelas yang tak sesuai sama sekali dengan gelar 'pengacara karismatik' yang menempel padanya. "Karena bukan tamasya. Ini kunjungan psikososial.

