Malam di markas rahasia Jiva terasa lebih dingin dari biasanya. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah dan udara yang pekat dengan ketegangan. Ivan berdiri di depan meja bundar besar, peta digital Jogja terpampang di layar monitor utama, ditandai titik-titik merah yang terus bergerak. Di belakangnya, para anak buah berpakaian serba hitam sudah bersiap. Senjata api legal, peralatan komunikasi, hingga perangkat pengacak sinyal—semua disusun rapi. Mereka tak lagi main-main. Yang mereka hadapi kini bukan hanya sekadar pelakor, tapi sosok dari masa lalu yang dulu nyaris menghancurkan rumah tangga Pak Sultan. “Langkah ketiga dimulai malam ini,” tegas Ivan, suaranya tajam namun tenang. “Target?” tanya Nanda, salah satu anak buah kepercayaannya. Ivan mengangguk ke layar. “Rania sud

