Saat Langit Tak Lagi Biru

1111 Words

Ruang rawat VIP itu dipenuhi suara mesin monitor dan detak jantung yang stabil, tapi suasananya sama sekali tidak tenang. Salwa duduk disisi tempat tidur Jiva, menggenggam tangan suaminya yang masih terlihat lemah. Matanya sembab, tapi tak lagi mengalirkan air mata. Dia harus kuat. Demi Jiva. Demi bayi mereka. Pintu tiba-tiba terbuka. Dua sosok yang familiar tapi tak sering mereka temui berdiri di sana. Pak Sultan— pria paruh baya dengan sorot mata tajam, dan Bu Cantika— wanita elegan dengan mata memerah. “Ya Allah—” lirih Bu Cantika, buru-buru berjalan menghampiri Salwa, lalu memeluknya erat. “Salwa, Nak.” Salwa membalas pelukan itu dengan tubuh gemetar. "Maafkan aku, Mami. Aku nggak bisa jaga A’ Jiva." Pak Sultan tidak ikut memeluk. Beliau berdiri tegak, dengan wajah penuh murka. Ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD