Sentuhan Kebencian

1034 Words

Lantai marmer lobi Sektor 7 sudah berubah menjadi kolam merah yang memuakkan. Zen terengah-engah, peluh bercampur cipratan darah menetes dari dagunya, membasahi lantai yang sudah kotor. Ia menatap wajah Virian yang kini sudah tak sadarkan diri sepenuhnya. Napas sahabatnya itu dangkal, pendek, dan putus-putus, seolah-olah nyawanya sedang merayap pergi di tengah kesunyian gedung yang terkunci lapisan baja tebal ini. "Ah, sialan!!!" teriak Zen frustrasi. Suaranya menggema, memantul di dinding-dinding lobi yang tinggi. Ia menoleh ke arah wanita tua yang masih terisak. "Bi... Bi Inah! Berhenti menangis lah... dan bantu saya! Cepat!" gertak Zen. Ia menyadari sepenuhnya bahwa mereka tidak bisa membiarkan Virian terkapar mati di lantai dingin ini. "Kita pindahkan dia ke atas sekarang. Ke kamarnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD