Aku masih tertegun mendengarkan cerita Alisa tentang rencananya ingin mendekatkan Daddy-nya dengan mamanya. Ia tampak begitu antusias, matanya berbinar, senyumnya tulus penuh harap. Kepalaku melayang ke mana-mana. Aku jadi memikirkan banyak hal, tentang keluarga, tentang rumah, tentang semua rahasia yang makin lama terasa mencekik. Aku bahkan nyaris tidak mendengar kalimat terakhir Alisa. “Alea!” Suara Alisa tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Ia menepuk tanganku pelan, matanya menatap iseng. “Kok kamu malah bengong? Jangan-jangan kamu kepikiran tugas ya? Atau kamu punya cowok, ya? Hayo ngaku!" "A-Apa? Nggak mungkin, kamu apaan sih." "Terus? Kenapa kamu kayak galau gitu sih, aku kan lagi cerita, kamu malah kayak orang patah hati!" Alisa menggembungkan pipinya. "Kamu main rahasia-

