Aku baru saja menutup pintu kamar dengan tangan yang masih gemetar, mencoba meredam isak tangis yang menyesakkan d**a. Namun, baru beberapa detik kesunyian menyelimuti, sebuah suara dentuman keras dari arah pintu utama di lantai bawah menghancurkan segalanya. BRAKK! "Buka pintunya! Nyonya Marine! Keluar kamu, wanita tua sombong!" Aku tersentak. Itu bukan suara pelayan, bukan juga suara Kalandra. Itu suara wanita asing yang melengking tinggi, penuh dengan kemarahan yang meledak-ledak. "Astaga, siapa itu. Kemana penjaga, kenapa bisa ada keributan." Aku pun keluar kamar untuk memeriksa. Nenek Marine yang tadinya sudah masuk ke kamarnya, kini keluar kembali. Langkah kakinya di koridor lantai atas terdengar sangat kaku dan berat. Wajahnya mengeras seperti batu pualam, urat-urat di pelipis

