Aku melangkah gontai kembali ke kamar, menutup pintu dengan pelan seolah takut memecah kesunyian yang tiba-tiba terasa begitu menenangkan sekaligus hampa. Aku menjatuhkan tubuhku di atas ranjang, membiarkan punggungku tenggelam di atas sprei yang lembut. Sambil menatap langit-langit, aku menyentuh bibirku yang masih terasa sedikit bengkak. Sisa-sisa napas panas Kalandra, aroma parfumnya yang maskulin, dan sensasi jemarinya yang tadi sempat menjelajahi kulitku masih tertinggal dengan sangat nyata. Tubuhku masih menyisakan getaran itu, sebuah memori panas yang nyaris membuatku melupakan seluruh dunia. Meski Kalandra tadi mewanti-wanti agar aku tidak menyentuh ponsel, rasa penasaran yang sedari tadi menggerogoti dadaku tak bisa lagi dibendung. Dengan tangan gemetar, aku meraih benda pipih

