Gemuruh air dari shower yang menghantam lantai kamar mandi tidak mampu meredam gemuruh di dalam kepalaku. Aku menyandarkan kedua telapak tangan pada dinding keramik yang dingin, membiarkan aliran air mengguyur punggungku yang tegang. "Sialan," geramku rendah. Bayangan wajah Alea yang memelas semalam kembali menghantamku. Matanya yang sayu, bibirnya yang bengkak karena ulahku, dan bagaimana tubuhnya melengkung indah saat aku mempermainkannya di depan pintu kamar, rumah milik nyonya Marine. Aku tahu aku b******k karena meninggalkannya dalam keadaan menggantung seperti itu, tapi aku sendiri hampir gila menahan diri agar tidak menerjangnya saat itu juga. Aku memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memikirkan laporan keuangan kantor yang berantakan atau jadwal rapat yang padat. Namun, semak

