Aku berdiri di tengah ruang tamu, ponsel masih menampilkan kontak Kalandra. Jemariku melayang di atas tombol panggil, hampir menekannya. Aku ingin sekali mendengar suara tegasnya, memintanya datang, memelukku, dan mengambil alih kekacauan yang kubuat. Namun, aku menarik tanganku. Tidak. Ini terlalu pengecut. Setiap kali masalah muncul, aku selalu melibatkan Kalandra, membiarkan dia membersihkan kotoran yang disebabkan oleh perbuatanku atau nasib burukku. "Nggak, sebaiknya aku nggak melibatkan Om dulu." Kalandra sudah punya cukup beban dengan pekerjaan. Jika sekarang aku mengatakan, "Anakmu calon tunangan cucu konglomerat hotel dan dia jatuh cinta padaku." Itu hal gila, itu hanya akan membuat situasi menjadi lebih runyam dan membebani Kalandra. Aku tidak mau terlihat lemah dan berg

