Tiba-tiba, tangannya terulur dan memegang tanganku yang tergeletak di bangku. Sentuhan itu membuatku refleks menarik tanganku secepat kilat, seperti tersengat listrik. Aku menatapnya tajam, dadaku berdebar karena terkejut dan sedikit marah. Keano menyadari keterkejutanku. Dia mengangkat kedua tangannya sedikit, menunjukkan penyesalan. "Maaf, Alea. Aku minta maaf kalau aku membuatmu terkejut. Aku... aku hanya jujur." Dia menatapku lagi, dan kali ini ada keyakinan yang mengganggu di matanya. "Aku tahu aku tidak sebanding dengan Tuan Kalandra. Dia konglomerat, aku hanya koki kafe. Tapi aku merasa aku jauh lebih pantas dibandingkan Tuan Kalandra untuk menjadi pasanganmu, Alea." Aku tercengang. Kata-kata itu berputar di kepalaku. Lebih pantas? Kenapa Keano malah berbicara begitu seolah

