Paginya aku terbangun, tetapi di sampingku Kalandra sudah tidak ada di kamar. Aku menghela napas, kecewa. Aku meraih pakaian yang terlipat rapi di kursi, baju tidur berbahan sutra tipis. Aku lalu memakai baju tidurku, seperti biasa tanpa dalaman apa pun. Aku berjalan pelan keluar kamar, mencari Kalandra. Aku mendengarkan suara samar-samar dari ujung lorong, suara dentingan logam. Aku mengintip ke ruang yang ternyata adalah ruang olahraga. Di sana aku melihat Kalandra tengah berlatih otot, melakukan pull-up di frame logam besar, dengan telanjang d**a. Otot punggungnya yang keras dan bahunya yang lebar bergerak dalam ritme yang kuat dan mendominasi. Keringat membasahi kulitnya yang kecokelatan. Pemandangan itu begitu liar, begitu maskulin. Seketika pemandangan itu membuatku langsung basah

