Aku melihat dengan mata membulat. Yang terpampang di mading itu adalah fotoku. Bukan foto biasa, melainkan foto candid yang buram, menunjukkan aku sedang masuk ke mobil mewah Kalandra, dan ada caption yang sangat provokatif, menjijikkan, dan menghakimi. Tanpa berpikir panjang, aku menarik gambar yang tertempel di mading itu, lalu meremasnya dengan sekuat tenaga. Jantungku berdebar kencang karena rasa malu dan amarah yang memuncak. Aku berbalik, tapi sekelilingku tengah menatapku dengan tatapan menghakimi. Bisik-bisik yang tadinya samar kini berubah menjadi keheningan yang mematikan. Beberapa mencibir dari gestur tubuhnya. Aku mendengar salah satu suara yang familiar. "Jadi selama ini lo simpanan om-om, Lea? Pantes, ya, uang kuliah lo lunas. Padahal, terakhir gue lihat lo sibuk kerja par

