Aruntala masih meringkuk di lantai kamar, napasnya yang tadinya liar perlahan mulai teratur, meski detak jantungnya belum sepenuhnya kembali normal. Pikirannya masih basah oleh bayangan Dewangga di kolam renang tadi—sensasi kulit pria itu yang begitu kontras dengan dinginnya air, dan bagaimana jari-jarinya masih terasa ‘terbakar’ karena memori sentuhan itu. Oek... Oek.... Suara tangis bayi yang melengking memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah. Aruntala tersentak. Kepalanya yang tadinya terkulai lemas kini terangkat dengan cepat. Elnino. Suara tangis itu seperti siraman air es yang menyadarkannya kembali ke realita. Semua bayangan tentang Dewangga, tentang sentuhan liar di kolam renang, dan tentang pengakuan ‘ciuman pertama’ itu, seketika tertutup oleh satu fakta bahwa dia ha

