33. Bolehkah Berharap?

1325 Words

Pertahanan Aruntala runtuh seketika. “Hukuman” kecil dari Dewangga justru menjadi pemantik yang meledakkan seluruh sesak di dadanya. Ia tidak lagi peduli pada gairah yang merambat, karena rasa bersalah dan rasa hina yang ia rasakan terasa jauh lebih membakar. ​Aruntala menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dewangga, tangannya mencengkeram kemeja putih pria itu hingga kusut. Isaknya pecah, tertahan namun menyayat di keheningan kamar bayi yang remang. ​“De—Dewangga... hentikan,” rintih Aruntala di sela tangisnya. “Apa yang dikatakan Rengga... dia benar. Aku... aku mulai merasa bahwa aku memang the real b***h seperti yang dia katakan.” ​Dewangga tertegun sejenak, gerakannya yang menuntut perlahan melambat. Ia merasakan kemejanya mulai basah oleh air mata Aruntala. Ia tidak melepaskan kuru

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD