15. Sentuhan yang Meresahkan

1188 Words

Cahaya remang-remang dari lampu tidur Elnino memberikan rona keemasan yang intim di sudut ruangan. Napas Aruntala tersendat, menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di siang yang mendung itu selain detak jantungnya sendiri yang berdentum keras di dadanya. Dewangga tidak bergerak sedikit pun. Telapak tangannya yang besar dan hangat masih menempel pada kulit Aruntala yang lembut, merasakan detak jantung wanita itu yang liar di bawah jari-jarinya. Sorot mata birunya, yang biasanya sedingin es, kini berkilat dengan intensitas yang berbeda seperti sebuah campuran antara kekhawatiran yang tulus dan rasa lapar yang purba. “Tuan... pelan-pelan,” bisik Aruntala lagi, suaranya bergetar hebat. Ia ingin menutup matanya, tapi tatapan Dewangga seolah mengunci pandangannya, memaksanya untuk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD