14. Modus Berkedok ‘Memijit’

1242 Words

Pagi itu, suasana di ruang makan utama sangat berbeda. Cahaya matahari mulai masuk melalui jendela-jendela besar, menerangi meja makan kayu panjang yang biasanya hanya diisi oleh kesunyian. Oetman berdiri di sudut ruangan dengan wajah yang sulit menyembunyikan rasa herannya. Seumur-umur bekerja untuk pria itu, ia jarang sekali melihat Dewangga Langston duduk santai di meja makan saat weekend. Biasanya, pria itu sudah menghilang sejak matahari baru mulai bersinar menuju kantornya. ​Aruntala turun dengan langkah ragu. Ia mengenakan terusan selutut yang sopan, namun tangannya terus meremas ujung bajunya sendiri. Begitu sampai di ruang makan, jantungnya serasa mau copot melihat Dewangga sudah duduk di sana, menyesap kopi hitam sambil membaca tablet di tangannya. ​“Selamat ... pagi,” sapa Aru

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD