44. Kita Harus Berhenti

1161 Words

​“Ada apa Tuan? Apakah terjadi sesuatu pada Elnino?” tanya Aruntala, suaranya terdengar sangat formal dan berjarak, seolah percakapan manis mereka beberapa hari lalu tak pernah terjadi. ​Dewangga bangkit dari duduknya, menatap lekat manik mata Aruntala. “Bisa kita bicara di tempat lain?” ​Aruntala tampak ragu, ia meremas ujung bajunya. “Tidak bisakah kita berbicara di sini—” ​“Tidak bisa, Aru. Aku butuh tempat yang lebih tenang untuk berbicara,” potong Dewangga dengan nada tegas, tak menerima bantahan sedikit pun. Mata birunya menatap lekat Aruntala, menguncinya telak seolah menuntut penjelasan atas kepergiannya yang tiba-tiba. ​Aruntala tahu, ia tidak punya pilihan apapun sekarang dan ya, memang, menghindari pria itu hanya akan membuatnya semakin dikejar. Jadi, baik sekarang atau nan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD