43. Pergi Tanpa Pamit

1379 Words

Suasana di ruang makan kediaman Langston pagi itu terasa begitu mencekam. Matahari yang bersinar cerah di luar sana seolah tak mampu menembus dinginnya dinding ruangan yang kini dihuni oleh dua orang dengan ketegangan yang nyata. ​Herra sudah duduk di kursinya, tampil sempurna dengan gaun sutra berwarna emerald dan riasan wajah yang seolah tidak menunjukkan bahwa ia baru saja menempuh perjalanan jauh. Ia menyesap tehnya dengan gerakan anggun, memancarkan kembali aura nyonya besar yang sempat hilang dari rumah itu. ​Dewangga duduk di kursi utama dengan setelan kerja yang sangat rapi—kemeja putih bersih dipadu dengan jas hitam yang disetrika sempurna. Namun, wajahnya tampak jauh dari kata tenang. Matanya terus melirik ke arah kursi yang biasanya ditempati oleh Aruntala, namun kursi itu ko

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD