Dewangga melangkah menyusuri koridor dengan langkah berat. Ponselnya masih menempel di telinga, ia sedang memberikan instruksi terakhir pada bawahannya dengan nada bicara yang masih dipenuhi sisa emosi akibat penolakan Aruntala barusan. Begitu ia sampai di depan pintu kamar utamanya, Dewangga mematikan sambungan telepon tersebut dengan sekali sentuh. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum beristirahat. Tangan besarnya meraih gagang pintu, mendorongnya perlahan masuk ke dalam kegelapan kamar yang sunyi. Ia melangkah masuk dan jemarinya bergerak refleks menyalakan sakelar lampu di dinding. Klik. Cahaya lampu kristal seketika menerangi setiap sudut ruangan, dan pada detik itu juga, jantung Dewangga seolah berhenti berdetak selama beberapa saat. Matanya menyipit, men

