Semenjak pagi itu, rumah besar milik keluarga Langston seolah berubah fungsi menjadi labirin yang menyesakkan sekaligus membingungkan bagi Aruntala. Setiap kali ia berpapasan dengan Dewangga di koridor—entah saat pria itu sedang menuju ruang kerja atau baru saja kembali dari kantornya—tatapan mereka selalu terkunci. Dewangga tidak lagi bersikap dingin yang menjaga jarak. Sekarang, tatapannya jauh lebih berat, lebih intens, dan selalu menyisakan kesan seolah ia sedang menelanjangi Aruntala tanpa menyentuhnya sama sekali. Aruntala sebisa mungkin mencoba menenggelamkan diri dalam kesibukan. Apapun itu. Dia akan lebih sering menghabiskan waktu di kamar bayi untuk memastikan Elnino terurus dengan sempurna, atau membaca buku di ruang tengah sebanyak yang ia bisa, atau menelpon ishana, atau l

