Suasana di panti asuhan malam itu sungguh sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik dan lampu teras yang temaram. Namun, seberapa sunyi pun keadaan di sana, tetap terasa tenang dan pulang bagi penghuninya. Aruntala duduk di bangku kayu panjang dengan buku novel di tangannya. Kebiasaan yang sudah jarang dia lakukan semenjak ... yaaa, segala kerumitan hidupnya datang menerpa. Dan kali ini, ia hanya ingin damai. Melupakan segalanya dan menjadi diri sendiri yang tidak tahu apa-apa. Namun, ketenangan itu harus terusik ketika sorot lampu mobil mewah terlihat membelah kegelapan dan berhenti tepat di depan gerbang panti asuhan. Dewangga keluar dari mobil dengan setelan jasnya yang terlihat berantakan. Wajahnya kusut tapi tetap terlihat sangat tampan. Ah, sialan sekali, bukan? Aruntala terkesia

