Aku tahu siapa yang sedang memelukku saat ini. Dari dekapan hangatnya juga aroma tubuhnya, begitu aku hafal di luar kepala. Jam berapa sekarang? Kenapa Restu sudah kembali pulang. Bukankah lelaki itu pergi bekerja hari ini? Benak ini masih juga bertanya-tanya. Namun, mata enggan untuk aku buka. Memilih menikmati saja momen kebersamaan yang ada. Melesakkan wajah ini semakin dalam di dadaa bidang Restu sambil sesekali menciumi bau keringat bercampur parfum yang entah sejak kapan aku sukai. "Kau tak mau bangun, Zi!" aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Rupanya dia tahu jika sebenarnya aku sudah terbangun dari tidurku. "Sebentar lagi," jawabku menyerupai sebuah gumaman. "Jika kau tak mau bangun, jangan salahkan adikku yang lebih dulu terbangun daripada kamu." Kata-kata yang meluncur d

