Bab 154: Sarapan di Rumah Sakit

1265 Words

Maura baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas kasur, saat ponselnya berbunyi. Terlihat nama ayahnya di layar. Ia segera menerimanya. “Ya, Pa.” “Non, ini Bibik. Tuan Pahlevi sesak napas.” “Hah. Udah telepon dokter, Bi?” “Belum diangkat. Tuan suruh telepon Non Maura saja.” “Kenapa?” Andre mengernyit bingung. “Papa sesak napas katanya.” “Biar aku yang bicara,” Andre meminta ponsel Maura dengan tenang. “Hallo.” “Den Andre? Tuan Pahlevi sesak napas, Den, dan minta ditelponkan Non Maura saja.” “Bibik bisa tangani sementara?” “Bibik bingung.” “Minta tolong antar ke rumah sakit ya, Bi. Kita ketemu di sana biar lebih cepat. Sekarang ya, Bi.” “Iya, Den.” Telepon terputus. Andre mengganti celananya dengan celana panjang, kemudian meraih jaket. “Aku antar Papa ke rumah sakit. Kamu di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD