Evan setengah berlari mengikuti langkah panjang ayahnya memasuki lobbi rumah sakit dengan menggendong tas sekolahnya. Andre melangkah tegap dengan satu tangan masuk di kantong celananya. Sebuah kacamata hitam bertengger di atas hidung mancungnya. Mereka masuk ke dalam lift menuju kamar rawat inap Tuan Pahlevi Bimantara. Keduanya terdiam seperti dua orang yang sedang bermusuhan. “Evan? Sudah pulang?” Tuan Pahlevi tampak begitu gembira melihat cucu kesayangannya itu. “Kakek sudah baikan?” “Sudah. Tuh makan Kakek sudah habis.” “Kakek hebat. Berarti Kakek sudah sembuh dan tidak perlu menginap di sini lagi.” “Anak pintar. Belajar apa tadi di sekolah?” Andre menatap was-was putranya, sementara Maura mengawasi keduanya dengan tatapan tajam. “Apa ya tadi? Hmmm belajar membela diri.” “Pel

