S2: GELOMBANG CINTA

2638 Words

Beberapa bulan berselang. Paris masih gelap saat Belle terbangun karena rasa aneh di perutnya. Bukan nyeri yang teramat sangat. Bukan mual yang tajam. Lebih ke sensasi pegal dan tak nyaman yang membuatnya membuka mata dan menatap dalam gelap. Ia menarik napas pelan, lalu mengembuskannya. Beberapa kali. Namun, itu tak membantu. Belle menggeser tubuhnya sedikit, lalu berhenti. Ia mencoba terlentang sejenak, namun napasnya justri menjadi berat. Gerakan-gerakan kecil seperti itu saja mampu membuat dadanya terasa ngilu. “Gyan,” panggilnya. “Mon loup.” Butuh beberapa detik sebelum Gyan menjawab dengan gumaman. “Ada apa?” Ia belum membuka mata. “Perutku tak nyaman,” lirih Belle. Kedua kelopak mata Gyan sontak terangkat. Titik pandang mereka bertemu dalam kegelapan. “Apakah sudah saatnya?”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD