Abimana tidak memberikan kesempatan bagi Tiara untuk menarik napas. Begitu bibir mereka bertemu, suasana kamar yang dingin oleh AC seketika berubah menjadi pengap dan panas. Ciuman itu tidak dimulai dengan kelembutan, melainkan dengan rasa lapar yang selama berjam-jam tertahan oleh kehadiran anak-anak dan urusan kantor yang menyita waktu. Suara sesapan yang basah dan ritmis mulai memenuhi keheningan kamar. Abimana melumat bibir bawah Tiara dengan sangat dalam, menariknya perlahan lalu menyesapnya seolah sedang menikmati madu yang paling manis. Tiara mengerang rendah di balik tenggorokannya, tangannya yang tadi terkunci kini dibebaskan oleh Abimana hanya agar istrinya itu bisa meremas rambut pendeknya yang mulai berantakan. "Mmh... Mas..." lenguh Tiara di sela-sela pagutan mereka. A

