26

1420 Words

Di dalam ruangan yang sunyi itu, Nayara duduk di kursi kecil tepat di samping ranjang. Tatapannya kosong menatap wajah Aruna yang tertidur di brankar. Wajah yang sangat ia kenal sejak kecil, tapi juga wajah yang beberapa tahun terakhir terasa begitu jauh. Ada rasa sesak memenuhi dadanya. Sesal yang semakin lama semakin menyiksa. Rindu yang dia tahan meski semakin membuatnya sesak. Takut jika ia semakin membuat sang Mama hanya menganggapnya sebagai anak pembawa sial. Semuanya bercampur menjadi satu. Ia menyesal karena memilih pergi dari rumah demi kewarasannya sendiri. Menyesal karena membiarkan Mamanya sendirian menghadapi lukanya. Tapi di sisi lain… ia juga rindu. Rindu pelukan yang dulu selalu menenangkannya. Rindu suara lembut yang dulu memanggil namanya penuh sayang. Pelan-pelan, N

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD