25

1276 Words

Mobil Revan melaju membelah jalan kota yang sudah jelas sudah tak lagi sibuk seperti beberapa jam sebelumnya. Lampu-lampu jalan sudah sepenuhnya menerangi dan dari setiap rumah tak lagi seterang sore tadi. Di dalam mobil itu, hanya ada keheningan. Nayara duduk kaku di kursi penumpang. Matanya lurus menatap jalanan di depan, seakan tak ingin melihat apa pun selain garis aspal yang terus bergerak. Air matanya masih mengalir tanpa suara. Ia tak terisak lagi, tapi bahunya sesekali bergetar. Tangannya saling meremas di pangkuan. Napasnya pelan, namun jelas belum sepenuhnya tenang. Revan melirik sekilas. Hatinya mencelos melihat kondisi gadis di sampingnya. Ingin rasanya ia menggenggam tangan itu, menenangkan lagi seperti di basement tadi. Ingin memeluknya, mengatakan bahwa semuanya akan baik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD