Nayara menghela napas panjang. Dadanya masih terasa sesak, tapi kakinya tetap melangkah. Ia meraih kantong sampah di sudut dapur, mengikatnya rapi, lalu berjalan ke arah pintu depan. Pintu itu ia buka perlahan, seakan ia takut suara engselnya bisa membangunkan Aruna—atau mungkin membangunkan kenangan yang barusan ia coba redam. Udara malam menyergap wajahnya. Dingin, tapi menenangkan. “Hanya sebentar,” gumamnya pada diri sendiri. Ia melangkah ke luar, menuju tong sampah kecil di depan pagar. Lampu teras menyala redup, cukup untuk menerangi halaman yang sepi. Nayara membuang kantong sampah itu, menepuk-nepuk tangannya pelan, lalu berbalik hendak masuk kembali. Setidaknya jika besok ia meninggalkan rumah ini kembali, semua tampak bersih. Tidak mengganggu sang mama yang ada di rumah. Tib

