Ruang observasi satu itu terasa sangat sunyi, hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan detak jantung Revan yang seolah meledak di telinganya sendiri. Nayara dibaringkan di atas tempat tidur medis. Ia tidak melawan, tidak bergerak, hanya menatap langit-langit dengan mata yang tak berkedip. Seolah-olah nyawanya telah dicuri, meninggalkan cangkang kosong yang rapuh. Dimas baru saja menyelesaikan pemeriksaan awal pada luka di pelipis Nayara. Ia menoleh ke arah Revan yang berdiri mematung di sisi tempat tidur, wajahnya pucat pasi dengan tangan yang terkepal kuat hingga buku jarinya memutih. "Van," panggil Dimas lirih. Ia menarik Revan sedikit menjauh ke sudut ruangan. "Lo yakin mau ambil alih? Biar gue aja yang pegang dia malam ini." "Nggak. Gue yang akan masuk ke kognisinya,

