Mobil Revan perlahan memasuki pelataran Rumah Sakit Jiwa tempat Aruna dirawat. Suasana di tempat itu selalu sama setiap minggunya—hening, sedikit sunyi, tapi entah kenapa terasa menenangkan. Bangunan putih dengan halaman luas, beberapa pasien terlihat duduk di taman kecil ditemani perawat, sebagian berjalan pelan dengan tatapan kosong. Ini bukan lagi tempat yang asing bagi Nayara. Sejak kejadian beberapa bulan lalu, ia datang ke sini hampir setiap minggu. Dan selalu—selalu—ada Revan di sisinya. Mesin mobil dimatikan. Namun Nayara masih terdiam di kursinya. Tatapannya lurus ke depan, menatap pintu masuk gedung rawat inap dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kotak kue blackforest kecil berada di pangkuannya. Jari-jarinya mencengkeram kardus itu tanpa sadar. Revan meliriknya pelan. Ia

