"Duh, mana sih kak. Katanya mau jemput, bisa nggak sih?!" Ia memilih menunggu Rafael dengan duduk tanpa alas di trotoar. Di samping ban mobilnya yang sudah kempes total. Meleyot sudah. Ia menusuk-nusuk ban itu dengan kunci mobilnya, seolah-olah dengan begitu anginnya akan kembali secara ajaib. Rambutnya sudah sedikit berantakan, dan wajahnya sudah mengkilap karena keringat. "Greyie, kok mendadak banget kamu kek gini. Tau banget kalau yang punya juga capek. Sehati banget kita?" keluhnya pada benda mati itu. Ia merasa sangat tidak berdaya. Menjadi wanita karier yang sukses menulis narasi emosional ternyata tidak membantunya saat harus menghadapi sebuah baut ban yang keras kepala. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali berhenti tepat di belakang mobil abu-abunya. Nayara menyi

