Lantai kayu gudang dermaga itu berderit di bawah sepatu Jourell. Bau amis air laut yang membusuk dan debu pengap menyambut kedatangannya. Jourell berdiri diam di tengah ruangan, hanya ditemani oleh Han yang berdiri satu langkah di belakangnya dengan koper hitam di tangan. Di lantai dua, tepat di balkon dalam yang mulai melapuk, Albert berdiri dengan angkuh. Ia mengenakan jas yang sudah agak kumal namun tatapannya memancarkan kemenangan yang mutlak. Jourell dan Albert saling pandang dalam keheningan yang menyesakkan selama hampir satu menit. Tidak ada suara selain deru angin malam yang menyusup lewat celah dinding kayu. Tatapan Jourell dingin, setajam silet yang siap mengiris, sementara Albert membalasnya dengan seringai penuh cemoohan. “Selamat datang di akhir kejayaanmu, Jourell,” Alb

