"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun." Langit mendung menggantung di atas pemakaman, seolah turut berduka atas kepergian Cintia. Di halaman rumah duka, suara isak tangis pelayat terdengar samar-samar di antara angin yang berembus perlahan. Hari ini adalah hari yang paling berat bagi Hendra, hari di mana ia harus mengantarkan istrinya, Cintia, ke tempat peristirahatan terakhirnya. "Nak, kenapa kamu pergi secepat ini." Suara tangis ibunya Cintia yang terdengar pilu menggema di ruang itu. Ada banyak keluarga yang datang untuk melayat dan menguatkan. "Sabar ya, Mbak. Cintia udah sampai waktunya." Sukma memeluk besannya dengan erat sembari menenangkan. Sejak pagi, Sukma yang sibuk mempersiapkan pemakaman karena keluarga Cintia datang dari luar kota. Sukma meng-handle apa saja yang dibutu

