"Maaf ...," cicit Maharani. Raja melirik. "Bukan saya yang kamu celakai, minta maaflah ke Aylin dan keluarganya nanti, termasuk suaminya. Padahal itu orang yang sudah menganggapmu anak sampai sebegitunya, saya masih nggak habis pikir." Maharani menunduk. Hatinya perih, dadanya sesak, menyesal yang teramat parah di sini. Andai waktu bisa diputar ulang, Rani akan memilih tidak melakukan suruhan mamanya. Rani tidak akan menyukseskan itu. Andai ... tapi cuma tinggal andai. "Makanlah, Pak Jaya dan Bu Rea sedang dalam perjalanan. Jangan sampai mereka harus dihadapkan sama kamu yang pingsan karena belum makan." Maharani bahkan bisa dibilang belum tidur semalaman, lagi pula bagaimana bisa dia tidur di saat pikiran dan perasaannya sekacau sekarang? Ingin mati saja. "Makan," tekan Raja. Son

