"Apa ini, Lin?" "Oleh-oleh kampung." "Ya, tahu. Tapi apa gitu, lho?" Maharani kedatangan tamu, yaitu Aylin si sobat karib. Sepulang dari Banyuliang, Aylin langsung minta diantar ke rumah Rani. Tadi juga Rani sempat salam-salaman dengan papanya. Sekarang suami Aylin sedang di WC, setor tunai—biasa. Tiba-tiba mulas katanya. Aylin pun membongkar bingkisannya untuk Rani. "Tadaaa!" "Apaan, weh? Singkong?" "Yap! Di sini kalau beli, kan, mahal. Di desa nenekku tinggal ngerabut di kebun." "Buset. Terus ini singkong mentah mesti aku apain, Lin?" "Terserah kamu. Tuh, ada keripiknya segala macem. Aku bawa ini buat formalitas aja, sih. Sebagai ibuk tiri yang budiman, biar makin disayang papamu, Ran." Maharani auro mengerling. Aylin tertawa. Biasalah. "Ya udah. Makasih, ya, Buk." "Iya, Nak.

