126 | Luka di Bibir

1541 Words

"Papa ...." Baja tidak menyahut, rautnya datar, padahal hati berkecamuk. Ini karena rasa kecewa yang terlalu dalam. "Maafin Rani." Hanya itu. Karena detik selanjutnya Maharani sudah masuk ke mobil polisi. Kediaman ini sampai ramai sekali. Tentu Baja juga akan ke kantor berwajib untuk memberikan keterangan. Darah dagingnya telah dibuat tiada oleh mereka, terlepas dari Maharani yang terlihat sangat menyesal. Lalu bagaimana dengan Syila? Hukuman apa yang pantas baginya? Karena kematian pun dirasa masih sangat ringan untuk orang seperti itu. Helaan napas Baja sangat berat, berkilas balik pada masa lalu, bagaimana bisa dia jatuh cinta pada orang semengerikan mantan istrinya? Bagaimana bisa Baja bersimpati hingga ingin melindungi Syila, apa yang membuat Baja sampai sedemikian rupa terhada

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD