Satu-satunya Jalan.

1107 Words

Oleh karena kejadian di Rumah Sakit tadi, Kamelia menjadi tidak fokus. Dia seringkali kedapatan melamun dan tak mendengarkan ucapan Aksa dengan baik, membuat pria itu menghela nafas berat karenanya. “Kamelia,” panggilnya. Namun Kamelia masih diam, tanganya sibuk saling meremas satu sama lain dengan gelisah. “Sayang?” tegur Aksa lagi seraya menyentuh tangan Kamelia, membuat gadis itu terperanjat kaget seraya langsung menatapnya. “Ya-ya, Pak?” sahutnya. Aksa menghela nafas panjang, digenggamnya tangan Kamelia dengan hangat. “Apa yang kamu pikirkan, Sayang? Kamu gelisah dan melamun sejak tadi,” katanya. Kamelia pun menarik nafas berat, ingin sekali dia mengatakan semua masalahnya pada Aksa, dia yakin pria itu tidak akan ragu membantunya. Tapi di sisi lain, harga dirinya masih lah tingg

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD