“Kalian bicara serius sekali, sampai tidak mendengar aku mengetuk pintu sejak tadi!” ucap Aksa tersenyum dingin menatap Sarah dan juga Ara. Sarah tergagap, wajahnya langsung pucat melihat suaminya sudah berdiri di hadapannya. Seketika dia pun panik dan buru-buru memegang tangan Aksa untuk memohon ampun. “M-Mas, eh … kami … kami hanya berbicara tentang kesalahan kami yang sudah lalu. Jadi tolong dimaklumi dan jangan diambil hati. Aku hanya sedang memberi wejangan pada Ara agar dia insaf dan sadar dengan situasi sekarang ini,” kata Sarah tersenyum gugup. Ara diam dengan tangan terkepal. Lagi-lagi kali ini dirinya menjadi kambing hitam. “Bagaimana menurut kamu sendiri, Ara?” tanya Aksa seraya melempar pandangannya pada putri sambungnya itu. Ara hanya bisa terdiam dengan rahang mengeras,

