Aksa tiba di kantor 20 menit kemudian, dia langsung disambut oleh pekerjaan yang menumpuk dan itu mengalihkan perhatian dan pikirannya untuk beberapa waktu. Hingga akhirnya tiba jam istirahat siang tiba, Aksa berpikir ingin menelepon Kamelia untuk menanyakan keadaannya. “Sayang?” “Ya, Mas?” Aksa mengerutkan keningnya mendengar suara Kamelia yang terdengar sumbang, seperti orang yang habis menangis. Perasaannya yang memang sedang kalut kembali teringatkan jadinya. “Kamelia? Ada apa, Sayang? Apa kamu kontraksi? Tunggu aku pulang sekarang!” seru Aksa bergegas keluar dari ruangannya. “Nggak apa-apa, Mas, aku lagi masak dan mengiris bawang, jadinya mataku perih kayak orang nangis!” sahut Kamelia. Aksa yang sedang menuruni tangga darurat, melambatkan langkah lalu menghela nafas lega. “Sy

