Aksa membelokkan kemudi ke arah lain, mengikuti arahan dari suara wanita pemandu arah di ponselnya. Dia juga meraba kantong jasnya yang terdapat benda yang disarankan Max untuk dibawanya ke kosan Kamelia. “Setidaknya dia satu-satunya wanita di dunia yang bisa membaca peta dengan pintar dan jelas!” kekehnya geli sendiri. Ada banyak meme yang mengatakan jika wanita buruk dalam hal membaca maps. Ketika mobilnya memasuki jalan kecil, Aksa menjalankannya dengan perlahan sambil melihat sekeliling. Lingkungan yang sepi dengan deretan pintu yang berjajar hingga ke ujung sana, menandakan jika kosan ini memang dihuni oleh para perantau yang bekerja seharian. Hampir tak ada orang yang terlihat jika bukan seorang penjaga kosan yang menghentikan Aksa di depan pintu gerbang. “Bapak mau kemana?” tanya

