Aksa dikuasai rasa panik, takut jika terjadi sesuatu pada istrinya. Tak tega melihat Kamelia yang begitu kesakitan dan menangis di hadapannya. “Tapi–” “Aksa!” Fatya menarik tangan Aksa, yang hendak bersikeras ikut masuk ke dalam ruangan bersalin. “Kamu hanya menghambat mereka, biarkan dokter menangani Kamelia!” katanya. Aksa menghela nafas berat, sadar dengan sikap egoisnya barusan. Selanjutnya dia pun hanya pasrah melihat Kamelia dibawa masuk ke dalam ruangan bersalin itu. Fani menemani Fatya untuk duduk, sama-sama cemas da was-was menunggu proses persalinan Kamelia di dalam sana. Aksa tidak bisa tenang, dia berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan bersalin itu. Andika pun tampak ikut menunggu, dia berdiri tak jauh dari Fani dan Fatya. Tak beberapa lama kemudian, mereka dikejut

