Aksa menginap untuk malam ini, tak peduli jika bahkan sikap Fatya jelas-jelas bertentangan dengannya. Tak ada sikap hangat dan ramah dari mertuanya itu sama sekali. Tapi dia tak mau ambil pusing selama Kamelia sendiri masih membela dan menyambutnya dengan mesra. “Ini, Mas, tehnya!” Aksa yang sedang termangu menikmati pemandangan kebun teh di malam hari, menoleh pada Kamelia yang muncul meletakkan secangkir teh manis hangat di atas meja. “Kemarilah!” ucap Aksa, menepuk tempat kosong di sampingnya. Kamelia lalu duduk di sampingnya dan bersandar manja di bahunya. Aksa tersenyum melihatnya, dia pun merebahkan kepalanya di puncak kepala istrinya itu, seraya merangkul hangat perempuan itu. “Apa yang bisa dilihat, Mas, kebunnya gelap begitu!” ujar Kamelia seraya menunjuk ke tengah perkebunan

