Kamelia terbangun dari tidurnya, mengerjap merasakan silau dari cahaya matahari pagi yang sudah bersinar menyambutnya di luar sana. “Aduh, kenapa malah tidur lagi!” keluhnya, teringat pada Aksa yang pasti sudah berangkat kerja tanpa sarapan dulu. Dia pun beranjak bangun, sejenak menggeliat nikmat meregangkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal dan kaku. Kamelia mengeluh ketika merasakan lehernya yang terasa sakit dan sulit menoleh. “Selama seperempat abad umurku, masih saja nggak bisa tidur dengan benar!” gerutunya sambil menggerak-gerakkan lehernya dengan pelan. Salah bantal dan rasanya tidak enak, Kamelia bangun dan bergegas mandi, berharap air dingin akan meredakan rasa kaku di lehernya. Dia tersenyum sendiri menyadari dirinya yang tak memakai selembar benangpun ketika bangun tadi, ak

