“Aku ibumu, Nak, baik buruknya kamu, apapun itu, seorang ibu pasti akan selalu membuka pintu rumah lebar-lebar untuk anaknya kembali. Ibu tidak pernah membencimu, Kamelia, Ibu hanya takut kamu disakiti lagi!” ucap Fatya, paham dengan apa yang dipikirkan Kamelia. Kamelia semakin tergugu, dipeluknya lagi Fatya dan kembali menangis sesenggukan. “Dia kembali lagi pada mantan istrinya, Bu, mereka bersatu lagi!” tangisnya. Fatya terdiam kaku mendengarnya, dia memegang kedua bahu Kamelia dan kali ini menatap tajam pada putrinya itu. “Katakan, apa yang dia lakukan, Kamelia. Ibu tidak ridho jika kamu disakiti seperti ini, Nak!” tukasnya dengan penuh kemarahan. Kamelia terisak, ingin sekali dia mengatakan semua yang terjadi, tapi lidahnya kelu. Terlalu sakit jika harus mejabarkan semuanya pada

