Belasan tahun kemudian … Seorang pria muda berjalan penuh kharisma memasuki lobi sebuah kantor yang mewah dan luas, di belakangnya tampak seorang sekretaris dan dua orang pengawal mengikuti langkahnya dengan tegap. Sesekali pria itu mengangguk membalas sapaan para karyawannya, meski tanpa sedikitpun senyum terbentuk di bibirnya. Suasana kantor pun langsung terasa sepi dari kegiatan, waktu seolah berhenti setiap kali Zafran Surya Abimana berada. Orang-orang itu sibuk mengagumi kegagahan dan ketampanannya yang dingin dan bermata teduh namun tajam. BRUAK! Keheningan itu pecah oleh suara ribut benda yang secara tidak sengaja dijatuhkan oleh petugas kebersihan, seorang pria setengah baya tampak gugup dan ketakutan membereskan alat kebersihan yang tercecer di lantai. “Kau, bisa kerja yang

