Keesokan harinya, Ara datang menemui Daylon ketika lelaki itu sedang berolahraga di gym pribadinya yang ada di paviliun belakang. Sejenak Ara terpaku melihat visual paman suaminya itu, yang tengah berlari di atas treadmill. Baju kaos yang dipakainya tak mampu menyembunyikan bentuk badan atletisnya yang berkeringat. “Ara? Mau apa kamu kemari?” tukas Daylon mengerutkan kening ketika melihat Ara muncul di sana. Ara mengerjap, menggeleng sejenak demi menepis kabut pesona Daylon yang memenuhi pelupuk matanya. “Eh, itu … aku ingin bicara sebentar, Uncle!” ujarnya seraya mengulas senyum. Daylon menurunkan kecepatan treadmill-nya dan melepas headphone di kepalanya. Dia lalu turun dari alat lari itu seraya menyeka keringat dengan handuk kecil. “Ada apa?” tanya Daylon dengan nafas terengah-eng

